Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan

IQ, EQ dan SQ


Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus.
Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.
Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu : (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (193 dengan teori “Primary Mental Abilities”-nya. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.
Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.
Adalah Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Menurut hemat penulis sesungguhnya penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. Berbeda dengan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age).Terlepas dari “kesalahkaprahan” penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para “penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional”, bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek “non-intelektual” yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek – aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang.
Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup.
Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal-spiritual). Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience).
Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 2003).
Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2001). Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep Kecerdasan Spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Dengan istilah yang salah kaprahnya disebut Spiritual Quotient (SQ)Jauh sebelum istilah Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan, pada tahun 1938 Frankl telah mengembangkan pemikiran tentang upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya, bahwa makna atau logo hidup harus dicari oleh manusia, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai : (1) nilai kreatif; (2) nilai pengalaman dan (3) nilai sikap. Makna hidup yang diperoleh manusia akan menjadikan dirinya menjadi seorang yang memiliki kebebasan rohani yakni suatu kebebasan manusia dari godaan nafsu, keserakahan, dan lingkungan yang penuh persaingan dan konflik. Untuk menunjang kebebasan rohani itu dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan, diri dan manusia lainnya. Menjadi manusia adalah kesadaran dan tanggung jawab (Sofyan S. Willis, 2005).
Di Indonesia, penulis mencatat ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym, da’i kondang dari Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung dengan Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar, pengusaha muda yang banyak bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.
Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pelatihan ESQ yang telah memiliki hak patent tersendiri. Konsep pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang : (1) Zero Mind Process; yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran menuju God Spot (fitrah), kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari belenggu; (2) Mental Building; yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi berdasarkan kesadaran diri (self awareness), serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk pada Rukun Iman; (3) Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling; yaitu usaha untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam; (4) Strategic Collaboration; usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu; dan (5) Total Action; yaitu suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar, 2001).
Berkembangnya pemikiran tentang kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) menjadikan rumusan dan makna tentang kecerdasan semakin lebih luas. Kecerdasan tidak lagi ditafsirkan secara tunggal dalam batasan intelektual saja. Menurut Gardner bahwa “salah besar bila kita mengasumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas tunggal yang tetap, yang bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas”. Hasil pemikiran cerdasnya dituangkan dalam buku Frames of Mind.. Dalam buku tersebut secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kecerdasan manusia, yang kemudian dikenal dengan istilah Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) (Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 2002) .
Berkat kecerdasan intelektualnya, memang manusia telah mampu menjelajah ke Bulan dan luar angkasa lainnya, menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan dunia terasa lebih dekat dan semakin transparan, menciptakan bom nuklir, serta menciptakan alat-alat teknologi lainnya yang super canggih. Namun bersamaan itu pula kerusakan yang menuju kehancuran total sudah mulai nampak. Lingkungan alam merasa terusik dan tidak bersahabat lagi. Lapisan ozon yang semakin menipis telah menyebabkan terjadinya pemanasan global, banjir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana Gunung-gunung menggeliat dan memuntahkan awan dan lahar panasnya. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal, mulai bermunculan, seperti Flu Burung (Avian Influenza), AIDs serta jenis-jenis penyakit mematikan lainnya. Bahkan, tatanan sosial-ekonomi menjadi kacau balau karena sikap dan perilaku manusia yang mengabaikan kejujuran dan amanah (perilaku koruptif dan perilaku manipulatif).
Manusia telah berhasil menciptakan “raksasa-raksasa teknologi” yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan hidup manusia itu sendiri. Namun dibalik itu, “raksasa-raksasa teknologi” tersebut telah bersiap-siap untuk menerkam dan menghabisi manusia itu sendiri. Kecerdasan intelektual yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya, tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan dirinya maupun umat manusia. Dengan demikian, apakah memang pada akhirnya kita pun harus bernasib sama seperti Dinosaurus ?Dengan tidak bermaksud mempertentangkan mana yang paling penting, apakah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, ada baiknya kita mengambil pilihan eklektik dari ketiga pilihan tersebut. Dengan meminjam filosofi klasik masyarakat Jawa Barat, yaitu cageur, bageur, bener tur pinter, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa dengan kecerdasan intelektualnya (IQ) orang menjadi cageur dan pinter, dengan kecerdasan emosional (EQ) orang menjadi bageur, dan dengan kecerdasan spiritualnya (SQ) orang menjadi bener. Itulah agaknya pilihan yang bijak bagi kita sebagai pribadi maupun sebagai pendidik (calon pendidik) !
Sebagai pribadi, salah satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki, melalui upaya belajar (learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), dan learning to live together (EQ), serta berusaha untuk memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus, hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya (real achievement).
Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (Meaningful Learning) (SQ), menyenangkan (Joyful Learning) (EQ) dan menantang atau problematis (problematical Learning) (IQ), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang cageur, bageur, bener, tur pinter.Sebagai penutup tulisan ini, mari kita renungkan ungkapan dari Howard Gardner bahwa : “BUKAN SEBERAPA CERDAS ANDA TETAPI BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS !
”Sumber Bacaan :
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Akhmad Sudrajat. 2006. Psikologi Pendidikan. Kuningan : PE-AP Press
Ary Ginanjar Agustian. 2001. ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam; Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Sipritual. Jakarta : Arga.
Basyar Isya. 2002. Menjadi Muslim Prestatif. Bandung : MQS Pustaka Grafika
Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl. 2002. Accelerated Learning for The 21st Century (terj. Dedi Ahimsa). Bandung : Nuansa.
Daniel Goleman.1999. Working With Emotional Intelligence. (Terj. Alex Tri Kancono Widodo), Jakarta : PT Gramedia.
E.Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
Gendler, Margaret E. 1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York: McMillan Publishing.H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : AlfabetaSyamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung: PT Rosda Karya Remaja.

Membangun kecerdasan secara Intelektual, Emosional dan Spiritual



Membangun kecerdasan secara Intelektual, Emosional dan Spiritual
irhamna82@yahoo.com


Pendahuluan
Semua orang pasti sepakat bahwa untuk menggapai kesuksesan harus memiliki “kecerdasan”. Tetapi seringkali kecerdasan yang dimaksudkan adalah kecerdasan intelektual (Intelectual/Intelegency Quotient-IQ) saja. IQ dianggap sebagai barometer kecerdasan bahkan kesuksesan seseorang sehingga tes IQ sering digunakan sebagai alat untuk menyeleksi calon siswa atau menyeleksi calon karyawan. Baru pada awal tahun 1990-an anggapan itu mulai bergeser setelah terbit buku tentang Kecerdasan Emosional (Emotional Intellegence-EI) yang ditulis oleh Daniel Goleman yang menjelaskan bahwa skor IQ yang tinggi belum cukup untuk menjamin kesuksesan seseorang dalam dunia kerja tetapi diperlukan kecerdasan emosional (Emotional Quotient-EQ) untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan kemanusiaan. Dari penelitian Goleman diungkapkan bahwa karyawan yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, meskipun IQ-nya tidak terlalu tinggi, dapat meraih kesuksesan dalam dunia kerja.
Disaat EQ masih hangat dalam pembicaraan para ahli atau praktisi, pada awal tahun 2000-an, Danah Zohar dan Ian Marshal mengungkapkan ada kecerdasan lain yang lebih paripurna yaitu Spiritual Quotient (SQ). Mereka merangkum berbagai penelitian sekaligus menyajikan model SQ sebagai kecerdasan paripurna (Ultimate Intellegence). SQ adalah kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menarik makna dari setiap kejadian yang dialaminya. Seseorang dapat mencapai kesuksesan dengan IQ dan EQ, tetapi ia akan mengalami kehampaan dalam hidupnya kalau tanpa memiliki SQ. Secara neurobiologis, baik IQ, EQ dan SQ memiliki struktur biologisnya. IQ dalam otak besar, EQ dalam otak bagian dalam (otak kecil), sedangkan SQ terletak pada sebuah titik yang disebut titik Tuhan (God Spot) yang terletak di bagian kanan depan. God spot ini akan terlihat lebih terang jika seseorang sedang menjalani aktivitas spiritual. Akan tetapi, SQ yang dikenalkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal belum menyentuh aspek ketuhanan dalam kaitannya dengan nilai-nilai agama. Aktivitas spiritual tersebut dapat juga dilakukan oleh seorang Atheis dalam bentuk kontemplasi atau perenungan tentang makna hidup atau sering juga disebut meditasi. Pada tahun 2001, Ary Ginanjar Agustian memberikan sentuhan spiritualitas Islam pada IQ, EQ, dan SQ dalam bukunya, “Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 rukun Islam”. Ary Ginanjar Agustian menyatakan bahwa IQ baru sebagai syarat perlu tetapi tidak cukup untuk meraih kesuksesan. Sementara EQ yang dipahami hanya sebatas hubungan antar manusia. Sementara SQ sering dipahami sebagai sikap menghindar dari kehidupan dunia. Hal ini mengakibatkan lahirnya manusia yang berorientasi pada dunia dan di sisi lain ada manusia yang lari dari permasalahan dunia untuk menemukan kehidupan yang damai. Dalam Islam kehidupan dunia dan akhirat harus terintegrasi dalam pikiran, sikap dan prilaku seorang muslim.
Dari sinilah muncul pemikiran bahwa pendidikan harus mampu menyentuh IQ, EQ dan SQ dalam satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, pendidikan yang ada sekarang masih memiliki kecenderungan pada IQ sehingga perlu diimbangi pula dengan pendidikan EQ dan SQ. Hal ini semestinya berlaku pada setiap jenjang pendidikan tidak terkecuali pendidikan di perguruan tinggi.
Dengan latar belakang tersebut, maka tulisan ini memiliki fokus yaitu bagaimana membina mahasiswa agar memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual untuk menunjang kesusksesan di masa depan. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai pengertian IQ, EQ dan SQ, hubungan antara ketiganya, pengaruhnya terhadap kesuksesan seseorang dalam hal ini mahasiswa, serta model pembinaan yang dapat dilakukan yang didasarkan pada IQ, EQ dan SQ yang memiliki nilai-nilai Islam.




Pengertian IQ, EQ dan SQ
Intellegency Quotient (IQ)
Dalam Armansyah (2002) dinyatakan bahwa IQ merupakan kecerdasan seseorang yang dibawa sejak lahir dan pengaruh didikan dan pengalaman (Toha, 2000). IQ adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental (Robin, 1996). Unsur-unsur yang terdapat di dalam IQ adalah: kecerdasan numeris, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang, ingatan (Robin, 1996).Menurut David Wechsler (Armansyah, 2002), inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.


Emotional Quotient (EQ)
Emotional Quotient (EQ) merupakan kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi (Cooper dan Sawaf, dalam Armansyah, 2002). Peter Salovey dan Jack Mayer (dalam Armansyah, 2002) mendefenisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.Goleman (Armansyah, 2002) mempopulerkan pendapat para pakar teori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam diri manusia yang berinteraksi secara aktif dengan aspek kecerdasan IQ dalam menentukan efektivitas penggunaan kecerdasan yang konvensional tersebut. Ia menyebutnya dengan istilah kecerdasan emosional dan mengkaitkannya dengan kemampuan untuk mengelola perasaan, yakni kemampuan untuk mempersepsi situasi, bertindak sesuai dengan persepsi tersebut, kemampuan untuk berempati, dan lain-lain. Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untuk menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif.Penelitian tentang EQ dengan menggunakan instrumen BarOn EQ-i membagi EQ ke dalam lima skala: Skala intrapersonal: penghargaan diri, emosional kesadaran diri, ketegasan, kebebasan, aktualisasi diri; Skala interpersonal: empati, pertanggungjawaban sosial, hubungan interpersonal; Skala kemampuan penyesuaian diri: tes kenyataan, flexibilitas, pemecahan masalah; Skala manajemen stress: daya tahan stress, kontrol impuls (gerak hati); Skala suasana hati umum: optimisme, kebahagiaan (Stein dan Book, dalam Armansyah, 2002). Spiritual Quotient (SQ)Spiritual Quotient (SQ) adalah aspek konteks nilai sebagai suatu bagian dari proses berpikir/berkecerdasan dalam hidup yang bermakna Zohar dan Marshal, dalam Armansyah, 2002). Indikasi-indikasi kecerdasan spiritual ini dalam pandangan Danah Zohar dan Ian Marshal meliputi kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan adaptif, cenderung untuk memandang sesuatu secara holistik, serta berkecenderungan untuk mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya, dan lain-lain.Bagi Danah Zohar dan Ian Marshal spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan aspek ketuhanan, sebab menurutnya seorang humanis ataupun atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. Hal ini berbeda dengan pandangan Ary Ginanjar Agustian (2001) bahwa penemuan tentang SQ ini justru telah membuktikan kebenaran agama Islam tentang konsep fitrah sebagai pusat spiritualitas. Dalam kajian Zohar dan Marshal, pusat spiritualitas secara neuro-biologis disebut God Spot yang terletak pada bagian kanan depan otak. God Spot ini akan bersinar saat terjadi aktivitas spiritual. Dalam konsep Islam, God Spot itu diasosiakan dengan nurani, mata hati atau fitrah. Fitrah adalah pusat pengendali kebenaran yang secara built-in ada pada diri manusia yang dihunjamkan oleh Allah SWT pada jiwa manusia pada saat perjanjian primordial (QS. al-A’raf : 179).


Hubungan IQ, EQ dan SQ
IQ vs EQ
Dalam kurun waktu yang lama IQ sering dijadikan patokan standar kualitas manusia. Skor IQ yang tinggi berarti memiliki kecerdasan yang baik dan dapat meraih kesuksesan dengan baik pula. Walapun skor IQ memiliki teknik penilainnya sendiri, IQ sering juga dikaitkan dengan nilai akademik seperti ranking prestasi siswa, indek prestasi kumulatif (IPK) mahasiswa atau skor tes potensi akademik (TPA). Anggapan ini sering mengelabui para guru, orang tua atau pihak lain yang berkepentingan dalam dunia pendidikan. Guru selalu bersusah payah untuk meningkatkan nilai rata-rata siswa, perguruan tinggi menjadikan IPK sebagai standar prestasi para lulusan dan TPA sering dijadikan standar tes seleksi masuk sebuah perguruan tinggi atau perusahaan. Memang IQ sangat berperan penting bagi setiap orang dalam menggapai kesuksesan. Tetapi, jika IQ menjadi tolak ukur satu-satunya, maka akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi tidak punya nurani. Bahkan cenderung membentuk manusia-manusia robot yang menjalankan tugas secara rasional dan teknis tanpa mempertimbangkan aspek emosional. IQ adalah syarat perlu bagi setiap orang tetapi tidak mencukupi untuk dijadikan faktor kesuksesan seseorang. Sementara itu, seringkali kita mendapatkan seseorang yang memiliki nilai akademik tidak terlalu baik tetapi memiliki prestasi yang meyakinkan di perusahaannya. IQ yang diberi sentuhan EQ, meliputi sikap empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat, akan menjadi kekuatan seseorang dalam menyelesaikan masalah dengan pertimbangan aspek emosional. Bagi seorang manajer keterpaduan antara IQ dan EQ mutlak diperlukan. Bagi para mahasiswa, aktif dalam organisasi kemahasiswaan adalah sarana untuk mengasah EQ mahasiswa, sementara IQ-nya diasah dalam aktivitas akdemik di ruang kuliah. Karena kita masih mendapatkan orientasi pendidikan di perguruan tinggi masih mengunggulkan pencapaian akademik (IQ) sementara peningkatan EQ masih bersifat informal.


EQ vs SQ
Pencapaian kesuksesan dengan mengandalkan IQ dan EQ akan sampai pada suatu titik dimana kebermaknaan dalam kehidupan ternyata belum tersentuh. Seringkali para manajer yang dianggap sukses seringkali bermasalah dengan makna hidup. Ada ruang yang hampa dalam diri seseorang ketika telah mencapai kesuksesan. Kecenderungan yang terjadi adalah manusia modern yang matrealistik mencari suasana yang sunyi dalam bentuk kontemplatif atau meditasi. Mereka mendambakan kesunyian dalam hidup setelah beberapa lama bergelut dengan aktivitas yang padat. Kesadaran dan kemampuan yang tumbuh dari dalam (internal) untuk menemukan makna hidup disebut Spiritual Quotient (SQ). SQ telah menjadi semacam alternatif pemecahan masalah atas kebisingan dan hiruk pikuk aktivitas manusia yang miskin makna. Orientasi kebendaan beralih menjadi orientasi ruhani.


ESQ Way 165®
Menurut Ary Ginanjar Agustian (2001), EQ yang dimaksud dalam literatur barat masih seputar hubungan antara manusia. Sementara SQ, terutama menurut pandangan Danah Zohar dan Ian Marshal, tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan aspek ketuhanan, sebab seorang humanis ataupun atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. EQ dan SQ dalam kajian tersebut bahkan tidak terjadi sinkronisasi. Padahal, antara IQ, EQ dan SQ harus dikaji secara holistik integratif sehingga akan menjadi suatu kecerdasan yang sempurna. Kalau setiap kecerdasan tidak menyatu, maka akan terjadi standar ganda, yaitu suatu sikap yang membagi waktu dalam hidup untuk kegiatan spiritual dan non spiritual, hari ini untuk bekerja dan esok untuk beribadah. Hal ini bertentangan dengan prinsip dalam Islam bahwa seluruh pola pikir, rasa dan tindak adalah ibadah (spiritual).
ESQ yang dikonsepkan oleh Ary Ginanjar Agustian (2001) adalah IQ, EQ dan SQ dalam satu kesatuan pada prinsip ke-Ilahi-an yang dibangun melalui 6 prinsip yang berdasarkan rukun Iman dan 5 strategi berdasarkan rukun Islam. Berbagai penelitian tentang EQ dan SQ justru semakin menegaskan kemulian Islam yang sangat jelas memiliki konsep IQ, EQ dan SQ yang lebih sempurna. Model yang disajikan oleh Ary Ginanjar Agustian adalah model ESQ Way 165®. Formasi ESQ Model ini dibentuk dan diilhami oleh mekanisme gerakan berputar (thawaf) alam semesta raya ini (makrokosmos) dan gerakan berputar elektron dan inti atom (mikrokosmos). Begitu pula pada dimensi fisik dan dimensi emosi yang mengorbit kepada dimensi spiritual, maka disebut sebagai spiritualkosmos.ESQ Model adalah sebuah model untuk membangun dan mengasah Kecerdasan Spiritual dan Emosional. Aktivitas fisik (IQ) dibimbing, diarahkan dan dikendalikan oleh 5 langkah bersumber pada nilai Rukun Islam (The Principle of Islam). Kecerdasan Emosi (EQ) dibentuk dan dibangun oleh 6 prinsip yang bersumber dari nilai Rukun Iman (The Principle of Faith). Kecerdasan Spiritual (SQ) berisi suara hati Ilahiah (Fitrah) bersumber dari percikan Asmaa’ul-Husna yang bersifat Universal. Seluruh gerakan ber-Thawaf mengelilingi titik Tuhan (God Spot) seperti gerakan alam semesta (Ihsan).
Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual
Sejak awal terbitnya buku tentang ESQ yang ditulis oleh Ary Ginanjar Agustian, penulis menaruh apresiasi terhadap konsep-konsep yang disajikan olehnya. Model ESQ Way 165® menambah khajanah intelektual Islam untuk merespon perkembangan ilmu penegatahuan barat tetapi dengan cara yang ilmiah pula yang bercirikan pada prinsip-prinsip Islam yang generik. Oleh karena itu, pada makalah ini yang menjadi model untuk membangun kecerdasan emosi dan spiritual adalah model ESQ Way 165®. Model tersebut menyajikan langkah-langkah dalam upaya membangun dan memelihara ESQ, yaitu :
Langkah
Lakukan
Jernihkan hati (Zero Mind Process)
Hidupkan Cahaya Hati (God Spot)
Bangun Mental (Mental Building)
Bangun Ketangguhan Pribadi (Personal Strength)
Bangun Ketangguhan Sosial (Social Strength)
Istighfar
Dzikir Asmaul Husna
Tasbih, Tahmid, Tahlil, & Takbir
Syahadat, Shalat dan Puasa Zakat dan Haji
Penjernihan hati (Zero Mind Process)
God Spot, suara hati, atau fitrah adalah barometer kebenaran yang mengendalikan aktivitas pikir, sikap dan prilaku manusia. Fitrah akan menjaga manusia untuk selalu berada pada koridor kebenaran. Akan tetapi, karena pengaruh eksternal fitrah dapat terbelenggu oleh noda-noda sehingga tidak dapat mengukur kebenaran dengan baik. Pada dasarnya fitrah adalah cerminan dari Asmaul Husna. Dalam kondisi yang suci fitrah akan membenarkan/membisikan sesuatu kebenaran apa adanya yang bersandar kepada Asmaul Husna. Ketika seseorang melihat seorang anak kecil yang meminta-minta maka pada dirinya akan timbul rasa belas kasih sebagai cerminan sifat Rahman dan Rahim Allah SWT. Fitrah setiap manusia akan memiliki sifat seperti itu. Hal-hal yang dapat menutupi kesucian fitrah adalah : prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding dan literatur. Perjernihan hati (Zero Mind Process) adalah upaya membersihkan nurani atau fitrah (hati) dari ketujuh aspek tersebut.
Menghidupkan Cahaya Hati (God Spot)
Tahap Zero Mind Process lebih ke arah pengobatan nurani/pembersihan hati, sementara pada tahap ini, kita cenderung aktif dalam memfungsikan fitrah sebagai radar kebenaran. Pembersihan hati dapat dilakukan dengan istigfar secara pikiran, lisan dan perbuatan, sedangkan menghidupkan cahaya hati melalui dzikir Asmaul Husna yang tercermin dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak.
Membangun Mental (Mental Building)
Pembangunan mental dilakukan untuk memperkuat pondasi hidup yang kuat yang berlandaskan pada 6 prinsip dari rukun Iman. Berikut ini adalah 6 prinsip untuk membangun mental beserta karakter-karakter yang dapat dikembangkan.
1. Prinsip Bintang (Star Principle) – Iman kepada Allah SWT
a. Rasa aman
b. Kepercayaan diri
c. Integritas
d. Kebijaksanaan
f Motivasi
2. Prinsip Malaikat (Angel Principlei) – Iman kepada para Malaikat
a. Loyalitas
b. Komitmen
c. Kebiasaan memberi dan mengawali
d. Kebiasaan menolong
f. Saling percaya
3. Prinsip Kepemimpinan (Leadership Principle) – Iman kepada para Rasul
a. Pemimpin yang dicintai
b. Pemimpin yang dipercaya
c. Pembimbing
d. Pemimpin yang berkepribadian
f. Pemimpin yang abadi
4. Prinsip Pembelajaran (Learning Principle) – Iman kepada Kitab-kitab Allah
a. Kebiasaan membaca buku dan situasi
b.Kebiasaan berpikir kritis
c. Kebiasaan mengevaluasi
d. Kebiasaan menyempurnakan
e. Memiliki pedoman
5. Prinsip Masa Depan (Vision Principle) – Iman kepada Hari Akhir
a. Ketenangan batiniah
b. Jaminan masa depan
c. Kendali diri dan sosial
d. Optimalisasi upaya
e. Berorientasi tujuan
6. Prinsip Keteraturan (Well Organized Principle) – Iman kepada Qada dan Qodar
a. Orientasi pemeliharaan sistem – menjaga sinergi
b. Orientasi pembentukan sistem – prinsip sinergi
c. Pemahaman arti proses
d. Kepastian hukum sosial
e. Kepastian hokum alam
Membangun Ketangguhan Pribadi (Personal Strength)
Orang yang telah memiliki ketangguhan pribadi adalah orang yang telah berpegang teguh pada 6 prinsip pembangunan mental (mental building). Dalam pelaksanaannya, untuk membangun pribadi tangguh ada tiga langkah sukses yaitu :
1. Penetapan Misi (Mission Statement) – Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
a. Membangun misi kehidupan
b. Membulatkan tegad
c. Membangun visi
d. Menciptakan wawasan
e. Transformasi visi
f. Komitmen total
2. Pembangunan karakter (Character building) – Ibadah Sholat
a. Relaksasi
b. Membangun kekuatan afirmasi
c. Meningkatkan ESQ
d. Membangun pengalaman positif
f. Pembangkit dan penyeimbang energi bathiniyyah
g. Pengasahan prinsip
3. Pengendalian diri (Self Controlling) – Ibadah Shaum
a. Meraih kemerdekaan sejati
b. Memelihara fitrah
c. Mengendalikan suasana hati
d. Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologis
e. Pengendalian prinsip
Membangun Ketangguhan Sosial (Social Strength)
Sementara 3 rukun Islam yang pertama yaitu membaca 2 kalimat syahadat, ibadah sholat dan shaum dapat membangun ketangguhan pribadi, maka ibadah zakat dan ibadah haji dapat membangun ketangguhan sosial. Berikut ini adalah 2 langkah sukses membangun ketangguhan sosial.
1. Sinergi (Strategic Collaboration) – Ibadah zakat
a. Investasi kepercayaan
b. Investasi komitmen
c. Membangun landasan koperatif
d. Investasi kredibilitas
e. Investasi keterbukaan, empati, dan kompromi
2. Aplikasi Total (Total action)
a. Langkah zero mind – Ihrom
b. Pengasahan komitmen dan integritas – Thawaf
c. Pengasahan Adversity Quotient (AQ) – Sa’i
d. Evaluasi dan visualisasi - - Wuquf
e. Hadapi tantangan – Lontar jumroh
f. Sinergikan – Jamaah haji


Pustaka
Agustian, Ary Ginanjar. (2001). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta : Penerbit Arga.
Armansyah.(2002).”Intelegency Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient dalam Membentuk Prilaku Kerja”. Jurnal Manajemen dan Bisnis. 02, (01), 23-32.
Zohar, Danah dan Marshal, Ian. (2000). SQ : Spiritual Intelligence the Ultimate Intelligence. London : Bloomsbury.

Jimly Berikan Motivasi Santri Indigo V


2008-08-25 12:41:00
Jimly Berikan Motivasi Santri Indigo V

CIREBON – Untuk kelima kalinya, Harian Umum Republika bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk kembali menggelar pelatihan internet bagi kalangan santri di pondok pesantren. Kali ini, kegiatan yang bertajuk ‘Santri Indigo’ (Indonesia Digital Community) itu digelar di Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jabar, 25-26 Agustus 2008.Kegiatan yang bertemakan ‘Internet Pesantren Wahana Syiar Digital’ tersebut diikuti 75 peserta yang berasal dari 25 pondok pesantren dari berbagai daerah di wilayah III Cirebon. Dari 75 peserta tersebut, sebanyak 60 orang merupakan santri, dan 15 orang lainnya merupakan ustadz/pengasuh pondok pesantren.Turut hadir dalam acara tersebut Hakim Konstitusi RI, Prof DR Jimly Asshiddiqie SH, Vice President Public Relation and Marketing Communication PT Telkom Indonesia Tbk, Eddy Kurnia, Ketua dan Pengasuh Majelis Tarbiyyatul Mubtadi-in Pondok Pesantren Kempek, KH Ja’far Agil Siraj, Direktur IT PT Telkom, Indra Utoyo, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Republika, Nasihin Masha.Selain diisi dengan pemberian materi dan pelatihan pembuatan blog di internet, para peserta juga diberikan pelatihan menulis berita. Tak hanya itu, para peserta juga dibekali materi tentang pembangunan motivasi diri yang disampaikan Jimly Asshidiqie.Dalam paparannya, Jimly mengungkapkan bahwa para santri dari pondok pesantren memiliki peran yang sangat besar dalam perbaikan umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Bahkan, sambung dia, tak sedikit tokoh negara yang berasal dari kalangan santri pondok pesantren.‘’Namun untuk bisa menjadi seperti itu, para santri harus memiliki berbagai keunggulan,’’ tegas Jimly.Menurut Jimly, selama ini para santri memiliki keunggulan berupa pemahaman yang lebih dalam mengenai akhlak dan ilmu agama. Namun, imbuh dia, hal tersebut harus pula ditunjang dengan kemampuan di bidang teknologi dan informasi.Jimly mengatakan, dengan kemampuan di bidang teknologi dan informasi tersebut, para santri dapat meluaskan syiar dakwah melalui dunia maya. Hal itu, juga dapat sekaligus membendung berbagai pengaruh buruk dari penggunaan internet.‘’Dengan internet, para santri pun dapat lebih mudah mengakses berbagai informasi dan pengetahuan dari berbagai belahan dunia dengan cepat, mudah, dan murah,’’ tutur Jimly.Sementara itu, Vice President Public Relation and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, dalam sambutannya, menjelaskan, kegiatan Santri Indigo tersebut merupakan salah satu bentuk CSR yang dilakukan PT Telkom. Pihaknya berharap, melalui kegiatan itu para santri dan kalangan pesantren lainnya dapat akrab dengan teknologi informasi.‘’Kami berharap para santri nantinya dapat memanfaatkan ilmu yang diperoleh dalam Santri Indigo ini untuk kepentingan syiar dakwah,’’ tegas Eddy. Lebih lanjut Eddy menjelaskan, selain kegiatan Santri Indigo, Telkom juga selama ini telah melakukan kegiatan CSR bagi para guru dengan nama ‘Bagimu Guru Kupersembahkan’. Hingga kini, terang dia, kegiatan itu telah meluluskan sekitar 1.000 orang guru dari berbagai daerah di Indonesia.

Tips Menghafal Al-Qur'an


Bismillahirrahmanirrahim....

Ikhwah sekalian,Salah satu diantara keajaiban Al Qur'an adalah bahwasannya Alloh telah memudahkan Al Qur'an untuk dihafalkan, dan diingat, Sebagaimana Firman Alloh : "Walaqod yassarnalqur'aana liddzikri fahal min muddakir"Artinya : "Dan sungguh telah kami mudahkan Al Quran sebagai peringatan, maka apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran ?" QS Al Qomar.Nah, bagi ikhwah dan akhwat sekalian yang masih merasa sulit untuk menghafalkan Al Qur'an, bisa mencoba tips-tips berikut ini , semoga bermanfaat :1. Hendaknya niat kita menghafal Al Qur'an ikhlash karena Alloh, bukan karena mengharapkan hasil yang lain, misalnya : niatnya menghafal Al Qur'an tercampur keinginan untuk ikut lomba hafalan Al Qur'an. Ini penting karena menyangkut diterima-atau tidaknya amal ibadah antum disisi Alloh 'Azza wajalla.2. Pastikan dalam menghafalkan Al Qur'an, antum dalam keadaan suci dari hadats.3. Pilihlah tempat yang kondusif untuk menghafal dengan melihat content yang akan kita hafal. misalnya kita menghafalkan sesuatu yang membutuhkan analisa maka lebih tepat kita berada di tempat terbuka; misalnya di taman, di serambi rumah dll. maka akan memudahkan kita memahami pelajaran yang kita hafal.akan tetapi dalam menghafalkan Al Qur'an maka kita membutuhkan tempat yang jauh dari keramaian dan tidak banyak berinteraksi dengan manusia maupun lingkungan, misalnya di masjid, dikamar pribadi, dan yang semisalnya. Itu akan menambah kekhusyu'an antum dalam menghafal.4. Pilih waktu yang tepat, waktu yang longgar , misalnya sebelum sholat subuh dan sesudahnya, atau disetiap sebelum atau sesudah sholat 5 waktu.5. Hafalkan Al Qur'an dengan maknanya (kita tahu arti dari ayat-ayat yang kita hafalkan), Sebelum menghafal, kita baca terjemahannya, tentunya akan lebih baik lagi jika antum bisa bahasa arab, dan tahu tentang i,rob kalimat.6. Dalam tekhnik menghafal, setiap individu akan berbeda cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ada yang lebih cepat hafal dengan membaca saja dengan suara yang keras, ada yang dengan menuliskan ayat-ayat yang dihafal, atau ada juga yang lebih cepat dengan mendengar murottal. nah ini adalah tugas antum untuk tahu dengan cara yang mana antum dapat lebih efektif dan cepat menghafal, atau antum akan menggunakan ketiga-tiganya ya tidak masalah.7. Mulailah dengan ayat per ayat dan jangan terburu-buru, selesaikan satu ayat kemudian lanjutkan dengan ayat berikutnya, untuk melanjutkan ayat yang ketiga dan seterusnya antum harus sudah hafal benar ayat-ayat sebelumnya.8. gunakan Sistem sabaq, sabqi, manzil. Sabaq adalah hafalan baru. Sabqi adalah hafalan yang kemarin kita hafalkan. manzil adalah hafalan 1 Juz yang telah lewat. di setiap harinya dalam menambah hafalan maka wajib disertakan pula hafalan kita yang kemarin. Dan setiap telah selesai 1 juz maka wajib mengulangnya ketika memasuki juz berikutnya.Contoh : Pagi ini kita menghafalkan Surat Al Qolam, maka itu disebut sabaq. setelah selesai dilanjutkan dengan mengulang Surat Al Mulk yang kemarin sudah kita hafalkan, itu namanya Sabqi, lalu nanti ba'da dhuhur atau sebelumnya kita murojaah 1juz ke belakang yaitu juz 30.Demikian seterusnya. Jangan menambah hafalan baru sebelum hafal benar surat yang kita baca.9. Sebuah pantangan bagi penghafal Al Qur'an adalah memiliki rasa iri dan dengki. Jika antum memiliki perasaan tersebut maka buang dulu perasaan tersebut, dan selesaikan dulu masalah antum, karena itu akan sangat mengganggu.10. Muroja'ah hafalan, lebih baik lagi jiga dibaca ketika sholat malam. dan memang ciri khas seorang penghafal Al Qur'an adalah rajin sholat malam.

Panduan Membuat Blog


Panduan Membuat Blog
irhamna82@yahoo.com
http://irhamnayaallah.blogspot.com/
I. Pengantar
Blog atau weblog adalah tren gaya hidup digital yang kian berkembang, hari demi
hari. Di Internet, blog disediakan gratis untuk siapa saja. Termasuk desain, hosting
hingga berbagai fungsi tambahan yang mempermanis tampilan blog. Gratis dan
mudah diaplikasikan.
Berikut ini adalah asumsi yang digunakan sebelum Anda mulai membuat blog:
• Anda sudah memiliki account e-mail.
• Anda terkoneksi dengan Internet saat mengerjakan blog.
• Anda bisa menggunakan program Notepad atau text editor lain.
• Anda paham istilah dan penggunaan copy atau paste.
Terakhir, sediakan bahan-bahan terlebih dahulu untuk memudahkan pengerjaannya.
Misalnya foto-foto, tulisan yang pernah Anda buat sebelumnya, daftar alamat blog
atau situs yang hendak Anda pasang dan tentu saja, nama blog Anda kelak.
Ingat, semua panduan di sini bersifat mendasar. Segala variasi dan pengembangan
bisa Anda lakukan sendiri kemudian dengan sumber lain di Internwt yang sudah
banyak tersedia. Jangan ragu saling kontak sesama blogger (pemilik blog), semua
blogger pasti bersedia share ilmunya.
Contoh-contoh blog gratisan milik anak atau keluarga bisa Anda lihat di
http://binarnajla.blogspot.com, http://singakecil.blogspot.com,
http://blogcinta.blogspot.com, dan masih banyak lainnya.
Blog yang dibuat dengan fasilitas gratis. Sebelah kiri hasil standar, dan sebelah
kanan sudah di-edit desainnya.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 2
II. Membuat Account
• Pertama, buka www.blogger.com.
Halaman awal Blogger.com
• Kemudian klik Create Your Blog Now!. Akan muncul sebuah halaman berisi form
seperti form pendaftaran e-mail. Isi semua kolom yang ada, dan klik Continue.
Lengkapi semua kolom di halaman berikutnya hingga selesai.
Halaman pendaftaran account Blogger.com.
• Saat pendaftaran, Anda akan diberikan pilihan beberapa pilihan template atau
desain standar. Pilih salah satu dan klik Continue.
Pilihan template atau desain standar Blogger.com.
Setelah selesai proses pembuatan account ini, Anda bisa segera memulai posting
atau mengisi blog.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 3
III. Mengisi Blog
• Pertama, login www.blogger.com.
• Masukkan username serta password.
• Kemudian klik New Post untuk mengisi blog Anda.
Halaman untuk memasukkan posting baru.
• Ketikkan judul dan isinya pada kolom yang tersedia, dan gunakan tombol-tombol
di bagian atas kolom isi posting atau gunakan perintah tombol yang tertulis di
bagian bawah kolom posting. Misalnya untuk menebalkan huruf, member link
pada sebuah kata dan lain sebagainya.
• Selamat! Anda kini sudah memiliki blog.
IV. Mengedit Desain atau Template
Setelah blog Anda selesai, mungkin Anda ingin untuk mengganti desainnya. Ada
banyak template atau desain blog yang tersedia di Internet gratis. Salah satu yang
hendak kita gunakan dalam modul ini adalah desain dari http://bloggertemplates.
blogspot.com/.
• Pertama, login ke www.blogger.com.
• Masukkan username serta password.
• Kemudian klik Change Setting.
• Buka http://blogger-templates.blogspot.com/
Situs yang menyediakan template atau desain gratis blog.
• Pilih desain yang Anda inginkan dengan meng-klik arsip per bulan yang ada di
seblah kanan.
• Dalam hal ini kita gunakan desain Sunflower sebagai contoh.
• Klik Get the Code pada bagian bawah gambar desain Sunflower.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 4
• Akan muncul sebuah hlaman berisi kode desain Sunflower.
Tampilan saat men-download template atau desain.
• Klik Select all pada bagian bawah kolom yang berisi kode desain tersebut.
• Kemudan klik kanan pada teks yang sudah tersorot, dan klik Copy.
• Sementara itu, buka dan login www.blogger.com di window yang lain.
• Klik change setting, dan klik Template. Pada window yang Template terbuka ini,
sorot semua yang ada di dalam kolom dan delete.
• Kemudan klik Paste, dilanjutkan dengan klik tombol berwarna oranye di bagian
bawah.
Halaman untuk mengubah Template pada Blogger.com.
• Dan tunggu hingga proses upload selesai. Kemudian klik tombol Republish Entire
Blog.
• Lihat hasilnya dengan mengklik tombol Open in New Window pada halaman
setelah Republish Entire Blog.
• Tentukan bagian mana saja yang hendak Anda ubah. Caranya, masuk kembali
ke bagian Template pada Blogger.com dan cari bagian yang hendak diganti,
kemudian klik tombol oranye di bagian bawah.
Jangan takut mencoba-coba. Toh, Anda bisa memulainya sejak awal dengan cepat
sekarng.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 5
V. Memberi Fasilitas Tag Board, Hit Counter dan Link Manager
Agar menarik, berikan beberapa fasilitas dalam blog Anda. Misalnya tag board atau
papan pesan bagi pengunjung blog Anda, hit counter untuk melihat jumlah
pengunjung, serta link manager untuk mengatur daftar link
Contoh tag board, hit counter dan link manager.
Kita akan menggunakan tag board, hit counter dan link manager dari sebuah situs
yang sama untuk memudahkan penerapaannya.
Pertama, kita coba memasang tag board.
• Buka www.shouthuns.com, kemudian klik Register.
Halaman awal Shouthuns.com.
• Isi semua kolom dalam form pendaftaran, dan klik tombol Register Now!
• Login ke e-mail Anda, dan buka e-mail dari Shouthuns.Com yang subject
"SHOUTHUNS - Registration Detail [Don't Reply]"
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 6
E-mail notifikasi dari Shouthuns.com.
• Klik link yang tersedia di e-mail tersebut. Atau buka Shouthuns.com, kemudian
klik menu Activate.
• Login ke Shouthuns.Com lagi, dan klik Shout Box di menu sebelah kiri.
• Klik Get HTML code di bagian atas.
• Pilih semua teks yang ada dengan meng-klik tomboh di bawah kolom.
Mengambil kode HTML di Shouthuns.com.
• Sementara itu, buka dan login www.blogger.com di window yang lain.
• Klik change setting, dan klik Template.
• Pada window yang Template ini, paste-kan kode HTML yang diperoleh dari
Shouthuns.com, pada bagian yang Anda kehendaki.
• Klik tombol berwarna oranye di bagian bawah.
• Dan tunggu hingga proses upload selesai. Kemudian klik tombol Republish.
Klik tombol Republish entire blog, untuk menyimpan semua hasil editing template.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 7
• Lihat hasilnya dengan mengklik tombol Open in New Window pada halaman
setelah Republish.
• Jika Anda hendak membalas message yang masuk, login-lah ke
www.shouthuns.com.
• Klik Tag Board di menu sebelah kiri dan pilih menu Edit & Reply di sebelah atas.
Halaman untuk menjawab pesan yang masuk pada tag board Anda.
Kedua, kita coba memasang hit counter.
• Buka www.shouthuns.com, dan login.
• Klik menu Hit Counter di sebelah kiri.
• lik Get HTML code di bagian atas.
• Pilih semua teks yang ada dengan meng-klik tomboh di bawah kolom.
• Sementara itu, buka dan login www.blogger.com di window yang lain.
• Klik change setting, dan klik Template.
• Pada window yang Template ini, paste-kan kode HTML yang diperoleh dari
Shouthuns.com di bagian yang Anda inginkan.
Setiap selesai meng-edit template atau desain, klik tombol orange ini.
• Klik tombol berwarna oranye di bagian bawah.
• Dan tunggu hingga proses upload selesai. Kemudian klik tombol Republish.
• Lihat hasilnya dengan mengklik tombol Open in New Window pada halaman
setelah Republish.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 8
Ketiga, memasang link manager.
• Buka www.shouthuns.com, dan login.
• Klik menu Link Manager di sebelah kiri.
• lik Get HTML code di bagian atas.
• Pilih semua teks yang ada dengan meng-klik tomboh di bawah kolom.
• Sementara itu, buka dan login www.blogger.com di window yang lain.
• Klik change setting, dan klik Template.
• Pada window yang Template ini, paste-kan kode HTML yang diperoleh dari
Shouthuns.com di bagian ynag Anda inginkan.
• Klik tombol berwarna oranye di bagian bawah.
• Dan tunggu hingga proses upload selesai. Kemudian klik tombol Republish.
• Lihat hasilnya dengan mengklik tombol Open in New Window pada halaman
setelah Republish.
Tag board, hit counter dan link manager bisa di-edit desainnya dengan login ke
Shouthuns.com dan memilih Setting di setiap menu.
Misalnya hendak mengedit tag board, caranya:
• Login ke Shouthuns.Com lagi, dan klik Shout Box di menu sebelah kiri.
• Klik Setting di bagian atas.
• Ubahlah bagian-bagian yang Anda inginkan. Dan klik Update Your Setting.
Halaman untuk mengedit setting.
Langkah-langkah editing ini bisa Anda lakukan untuk mengatur link manager dan
hit counter.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 9
VI. Meletakkan Gambar
Salah satu kesulitan yang sering dialami oleh pemilik blog -terutama yang gratisan-
adalah meletakkan gambar ke dalam blog. Ok, akan kita coba, tentu saja dengan
cara sederhana dan gratis.
• Pertama, buka situs www.photobucket.com.
• Klik Sign Up. Isi formulir yang tersedia hingga selesai.
Halaman pendaftaran Photobucket.com.
• Photobucket kemudian akan mengirimkan kode notofikasi yang bisa Anda
gunakan untuk login.
• Buka e-mail Anda untuk melihat kode aktifasi account baru di
www.photobucket.com.
• Ada sebuah link yang diberikan, dan klik-lah untuk mengaktifkan account Anda
tersebut.
E-mail notifikasi dari Photobucket.com.
• Kemudian login ke www.photobucket.com, dan Anda akan berhadapan dengan
halaman penempatan foto.
• Klik Browse dan pilih foto yang hendak Anda pasang di blog.
• Klik tombol Submit di bagian bawah tombol Browse.
• Ulangi lagi jika ada beberapa foto yang hendak Anda pasang.
• Setelah foto terpasang, pilih yang hendak Anda pasang pada blog.
Panduan Membuat Blog bagi Pemula - 10
Sorot atau pilih tag code di bagian paling bawah foto yang hendak Anda pasang.
• Sorot tag code di bagian kemudian copy.
• Paste tag ke dalam blog Anda, bisa di bagian posting atau di template. Sesuaikan
dengan keinginan Anda.
Jangan lupa, klik tombol oranye setiap selesai posting atau edit template. Khusus
foto, usahakan ukuran foto tidak lebih dari 50 KB, supaya blog mudah dan cepat
diakses. Jika ukuran besar, convert-lah terlebih dahulu menggunakan Photoshop
atau ACDSee.
VII. Penutup
Terima kasih

Galeri Foto Santriindigo kempek 2008

>>> Suasana ruang pelatihan santriindigo kempek 2008

>>> Peserta dari MTM Putri Kempek (coool abiiss...)

>>> Peserta beaksi bersama pimpinan ponpes kempek (Buya H. Ja'far Aqiel Siroj dan Prof. Syibli Ashidiqi

Ponpes Kempek Cirebon



Pondok Pesantren Kempek adalah salah satu pesantren terbesar di wilayah tiga Cirebon, yang didirikan oleh KH. Harun pada sekitar tahun 1908. sampai sekarang pondok ini masih eksis dengan berfokus untuk mempelajari kitab kuning (klasik) khususnya Nahwu Shorof dan juga Al-Qur'an tanpa meninggalkan tradisi ulama dengan kata lain Salafy.
pada tahun sekarang pondok ini memiliki santri sekitar 2000 anak berasal dari berbagai daerah di Jawa bahkan ke Sumatera.
sekarang dipimpin oleh Buya H. Ja'far Shodiq Aqiel Siroj ketua umum MUI Kab. Cirebon.

Dakwah Dunia Maya


Internet nggak melulu berisi sampah dan keisengan. Ada ruang positif untuk masyarakat dunia. Selain ajang persahabatan, juga kesempatan dakwah terbuka lebar.
Jaman sekarang adalah jaman informasi. Setelah manusia mengalami revolusi industri, kini kita sedang menjalankan revolusi informasi. Menurut seorang pakar komunikasi, Dissayanake, revolusi komunikasi adalah peledakan teknologi komunikasi dengan meningkatnya pemakaian satelit, mikro-prosesor, komputer, dan pelayanan radio bertahap tinggi. Penggunaan barang-barang canggih itu ada di mana-mana.
Berkat kecanggihan teknologi pengiriman informasi jadi gampang nian. Dulu, berkirim kabar terbatas lewat tabuhan beduk, kepulan asap ala orang Indian, kurir surat ala Poni Express, sampai telegraf. Sekarang? Cukup memencet keyboard komputer atau ponsel, kita sudah bisa ber-say hello pada kawan di tempat terjauh sekali pun.
Salah satu fasilitas yang bikin pencarian informasi jadi gampang adalah internet, dunia maya atau cyberspace. Istilah cyberspace pertamakali dipopulerkan seorang novelis Amrik, William Gibson lewat novel fiksi-ilmiahnya pada tahun 1984, Neuromancer. Gibson bilang kalau cyberspace itu adalah sebuah tempat yang “tak terbayang kompleksnyaâ€‌.
Dengan internet, komputermu di rumah atau di warnet bisa terhubung ke jutaan komputer lain di pojok dunia secara online. Berkat software browser, kamu juga bisa melacak jutaan informasi di dunia maya itu. Mau informasi yang bernilai pahala sampai yang dosa ada, komplit bak jamu gendong.
Perang informasi“Knowledge is power!â€‌ kata orang. Berkat pengetahuan orang bisa bikin mesin industri, bisa mengeksplorasi perut bumi, menjelajah angkasa, dan bikin senjata. Sekarang, “Information is power!â€‌. Yup, siapa yang memegang informasi, dia bakal menguasai dunia. Nggak main-main. Bukankah pikiran manusia tergantung informasi? Orang bisa benci pada Taliban, al-Qaeda, Osamah Bin Laden, Negara Islam, karena informasi yang mereka terima. Dunia bisa berdiri di belakang Amerika untuk menghajar Irak karena informasi yang disebarkan Paman Sam.
Medan perang informasi ini adalah media massa; cetak maupun elektronik. Apa yang kamu lihat dan kamu baca, seringkali nggak seperti adanya. Ada â€کkosmetik’ yang dipasang para redaktur media untuk bikin â€کcantik’ sebuah berita, atau justru bikin realita tambah â€کangker’. Sebagai contoh, AS pernah bikin cerita bohong soal pembebasan seorang tentara wanita (GI Jane) yang bernama Lindsay Jhonson dari pasukan Irak. Diceritakan kalau prajurit ini mengalami penyiksaan dan pelecehan seksual, dan untuk membebaskannya pasukan AS berjibaku, baku tembak dengan tentara Irak. Kenyataannya, Lindsay justru dirawat baik-baik oleh dokter-dokter Irak, dan diserahkan oleh mereka kepada pasukan AS. What a lie, Sam!
Internet juga menjadi medan tempur baru. Apalagi dengan jumlah pengunjungnya yang bisa mencapai jutaan orang, internet jadi sarana yang terbilang efektif untuk menebarkan perang opini. Di sini, beragam orang dan kelompok, menyebarkan macam-macam propaganda buat jutaan netter. Pornografi – mulai dari yang normal sampai abnormal –, gosip artis, sampai tips untuk bunuh diri juga ada. Bahkan sekte-sekte keagamaan seperti Gerbang Surga (Heaven’s Gate) juga buka warung di dunia maya. Belum lagi gosip-gosip yang ketauan juntrungannya sering beredar di sini. Itu sebabnya, dulu, orang menganggap internet adalah pelempar informasi sampah, saking banyaknya berita bohong yang bersliweran.
Ajang DakwahBut, nggak semua penghuni dunia maya itu buruk, bro! Alhamdulillah kini semakin banyak aje para aktivis dakwah yang memanfaatkan internet sebagai sarana dakwah. Sejumlah situs-situs Islam juga bertebaran dengan tampilan yang ciamik, keren gitu. Aneka informasi bisa kamu buka di beragam situs Islam. Ada situs Islam yang mengkhususkan diri membahas masalah-masalah politik, ada juga situs berita, konsultasi rumah tangga, dsb. Beberapa situs Islam juga tampil dalam bentuk portal.
Ajang dakwah via dunia maya ini tampil dalam beragam bahasa, tergantung latar belakang pengelolanya. Ada yang memakai bahasa Inggris, Arab, bahkan Urdu. Tapi buat kamu yang belum trampil cas-cis-cus berbahasa asing, jangan khawatir karena situs yang menampilkan bahasa Indonesia juga ada beberapa biji.
Dakwah via internet ini nggak cuma ada pada halaman berbentuk situs atau web, ada juga beberapa kelompok diskusi atau yang lazim disebut milis. Misalnya, milis Sobat Muda yang dipegang Mas O. Solihin and the gang bisa jadi ajang cuap-cuap plus dakwah buat para penghuninya. Ada juga yang serius macam ISNET yang dikelola beberapa ustadz asal Indonesia yang lagi kuliah di IISTAC Malaysia. Ini milis bisa jadi ajang untuk membedah kesesatan pemikiran orientalis yang juga sedang marak di tanah air.
Masih kurang? Ajang chatting jangan cuma dipakai hahahihi, pake juga dong untuk berdakwah. Lewat chatting yang interaktif dan spontan, kamu bisa memanfaatkannya untuk mempengaruhi pikiran orang supaya tunduk pada Islam.
Nah, jangan dulu berpikiran negatif tentang internet. Ia cuma alat, sama seperti tivi. Isinya tergantung pada kita sendiri. Di tengah pertempuran opini dan propaganda antara Islam dan kekufuran, kita bisa memanfaatkannya untuk ajang dakwah, membela dan meninggikan Islam. Buat kamu yang punya kemampuan mendesain web, kenapa nggak coba untuk bikin situs Islam yang oke. Itu amat bermanfaat sekaligus ajang berkreativitas. Syukur-syukur bisa jadi sarana cari duit (hehehe..).
Buat yang sekadar bisa chatting, ya manfaatin juga untuk dakwah. Seenggaknya kamu bisa bikin milis untuk ajang tukar pendapat dan makin paham tentang Islam. Oke, selamat berdakwah di dunia gaib, eh maya.